E. INTERPRETASI
INTERPERSONAL TEKS (Surat Permohonan Maaf)
a)
Afek
Afek
adalah penilaian komunikator (pembuat surat/Ferdy Sambo) terhadap partisipan
yang dalam hal ini bisa surat permohonan maaf, peristiwa, pernyataan, penerima
surat atau pembaca.
Penilaian
Ferdy Sambo terhadap surat permohonan maaf ini sangat positif. Hal ini dapat
diketahui melalui polaritas yang positif pada keseluruhan teks, dilihat dari
bentuk klausa-klausa deklaratif positif, klausa-klausa imperatif positif, dan
penggunaan leksis-leksis attitudinal berupa penggunaan kata-kata yang
berkonotasi positif/netral untuk mendeskripsikan realitas negatif atau
peristiwa buruk yang mendasari dibuatnya surat ini.
Klausa-klausa
deklaratif positif yang mendominasi teks ini, berupa pernyataan-pernyataan
positif melalui proses perilaku verbal yang dapat dilihat dari penggunaan kata
kerja dengan polaritas positif, seperti: ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf, meminta maaf, menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi, siap menerima tanggung jawab, menanggung seluruh akibat hukum, siap menjalani proses hukum.
Kalimat-kalimat ini digunakan untuk menyentuh emosi penerima surat/pembaca
sehingga memberikan kesan bahwa pembuat surat telah benar-benar menyesal, tulus
meminta maaf, dan siap bertanggung jawab.
Sementara
klausa-klausa imperatif positif dalam teks ini berupa kalimat perintah
permintaan yang menggunakan kata kerja positif dengan modalitas harapan
sehingga memberikan kesan yang baik dan sopan kepada penerima surat/pembaca,
seperti yang dapat dilihat dari kalimat: Saya
mohon permintaan maaf saya dapat
diterima, semoga kiranya rasa
penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan baik, sehingga segera mendapatkan keputusan yang
membawa rasa keadilan bagi semua pihak.
Penggunaan
kata-kata, seperti: yang murni, yang mendalam, siap, dengan baik,
memberikan kesan positif berupa penekanan nilai ketulusan dan kesungguhan
pembuat surat. Selain itu juga terdapat beberapa kata bermakna positif/netral
yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang berkonotasi negatif saat
menggambarkan peristiwa pembunuhan dan kejadian buruk yang mengikutinya,
seperti:
Kata
“dampak” pada “dampak yang muncul
secara langsung pada jabatan yang senior dan rekan-rekan jalankan dalam
institusi Polri” dan kata “akibatnya” pada “yang secara langsung merasakan akibatnya” digunakan untuk
mendeskripsikan perihal “sanksi yang dikenakan pada anggota Polri yang
melanggar kode etik”.
Kata
“perbuatan” pada “perbuatan yang
telah saya lakukan” digunakan untuk mengantikan kata “kejahatan atau pembunuhan
berencana”.
Kata
“tanggung jawab” pada “siap menerima tanggung
jawab” digunakan untuk menggantikan kata “hukuman atau sanksi”.
Kata
“terdampak” pada “menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada
senior dan rekan-rekan yang terdampak”
digunakan untuk menggantikan kata “terlibat”.
Kemudian
terdapat penggunaan kata yang bermakna generalisasi, seperti “semua pihak” pada
“segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak”dan “kita semua” pada
“semoga Tuhan senantiasa melindungi kita
semua”, yang jika tidak dicermati, maka pembaca akan mengira bahwa ucapan
harapan dan doa tersebut ditujukan pada kita semua/semua pihak yang terlibat,
termasuk korban dan keluarganya juga semua orang yang dirugikan oleh peristiwa
pembunuhan ini.
Namun
merujuk pada deskripsi kohesi teks, kata ganti “semua pihak” dan “kita semua”
sebenarnya merujuk pada “pembuat dan penerima surat”. Jadi, keadilan yang
dimaksud di sini adalah keadilan bagi Ferdy Sambo dan senior juga rekan-rekan
Perwira dan Bintara yang terlibat. Bahkan Bharada E, pelaku penembakan yang
termasuk dalam golongan pangkat Tamtama, tidak termasuk. Dalam perihal
suratnya, pembuat surat hanya menyebut senior dan rekan Perwira Tinggi, Perwira
Menengah, Perwira Pertama dan rekan Bintara Polri.
Jika
dilihat dari sistem dan struktur teks secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa
pembuat surat ingin memberikan makna positif dan nilai yang baik pada surat
permohonan maaf ini. Meskipun pembuatan surat ini dilatar belakangi oleh
peristiwa negatif dan nilai yang tidak baik (kejahatan, kekejaman, dan
kebohongan), namun pembuat surat tampaknya ingin pembaca mengesampingkan sisi
negatif peristiwa pembunuhannya dan mengalihkan fokus pembaca pada sikap
positif pembuat surat (pelaku) yang tercermin dalam seluruh pernyataannya dalam
surat ini.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa pandangan penulis terhadap surat permohonan maaf ini
adalah positif. Karena tidak ditemukan pernyataan negatif berkaitan dengan
peristiwa pembunuhan di dalam surat.
Pelaku
digambarkan sebagai sosok yang baik. Meskipun telah melakukan “perbuatan” buruk
tetapi pelaku menyatakan menyesal, memohon maaf, dan siap bertanggung jawab.
Senior
dan rekan-rekan Perwira dan Bintara yang terlibat dalam kasus ini juga
digambarkan sebagai orang yang tidak bersalah (baik), hal ini dapat diketahui
dari kalimat “dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada
senior dan rekan-rekan yang terdampak”.
Penerima
surat/pembaca juga ditempatkan pada posisi yang baik. Meskipun semua orang mengecam
tindak pembunuhan keji ini, tapi pembaca dipaksa untuk menjadi orang baik yang
bisa dengan terbuka menerima dan memaafkan kesalahan pelaku. Hal ini dapat
diketahui dari kalimat “mohon permintaan maaf saya dapat diterima”, “semoga
kiranya, rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan
terbuka.”
Meskipun
peristiwa pembunuhan berencana ini negatif, namun pembuat surat tidak pernah
menyampaikan pandangan, pernyataan, dan penilain negatif. Hal dapat diketahui
dari keseluruhan teks surat yang dibangun dengan polaritas positif: klausa
deklaratif dan imperatif positif, kata kerja positif, penggunaan kata-kata
berkonotasi baik dan tidak ditemukan antominya. Bahkan kata “pembunuhan” maupun
kata negatif lainnya tidak ditemukan dalam teks ini.
b)
Status
Status
yang dimaksud di sini adalah tingkat hubungan antara komunikator dan komunikan
terutama dilihat apakah hubungan bersifat hierarki atau sejajar.
Dilihat
dari Moodnya, yaitu struktur klausa yang merealisasikan makna interpersonal –
teks surat ini dibangun dengan makna proposal dan proposisi yang nyaris
seimbang. Dalam hal ini, pembuat surat seolah hanya ingin memberikan barang
(surat) dan memberikan informasi (isi surat), juga meminta penerimaan
pembaca/penerima surat melalui dominasi klausa deklaratif dan beberapa klausa
imperatif.
Namun
jika diamati lebih dalam, sebenarnya pembuat surat juga ingin meminta dukungan
dan penilaian baik sehingga penerima surat dan pembaca dapat memberikan
pemakluman bahwa pelaku adalah manusia biasa yang memiliki sisi baik dan buruk.
Dilihat
dari struktur teksnya yang menunjukkan penyampaian pernyataan pembuat surat
secara sepihak kepada penerima surat/pembaca. Meskipun terdapat salam
penghormatan berupa vokatif “Rekan dan senior yang saya hormati”, namun hal itu
hanya berfungsi sebagai bentuk salam pembuka dalam surat formal, bukan sapaan
keakraban.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pembuat surat dengan penerima
surat/pembaca bersifat hirarkikal atau vertikal.
c)
Kontak
Aspek
kontak dalam hal ini ialah melihat sisi familiaritas penggunaan bahasa oleh
komunikator dan komunikan. Tingkat familiaritas ini menunjukkan sejauh mana
bahasa yang digunakan mengenai sasaran secara tepat dan akurat.
Surat
permohonan maaf ini adalah surat formal yang bersifat internal. Sesuai dengan
keterangan perihal suratnya, maka sudah jelas bahwa yang menjadi komunikannya
adalah penerima surat, yaitu senior dan rekan Perwira Tinggi, Perwira Menengah,
Perwira Pertama dan Rekan Bintara Polri, baik yang terlibat maupun tidak.
Namun
karena surat ini juga tersebar luas di dunia maya (terlepas dari pihak pembuat
surat sendiri yang menyebarkan atau bukan) sehingga bisa diakses oleh semua
orang, maka pembaca (publik/masyarakat yang membaca surat ini) juga merupakan
komunikan surat ini.
Dapat
diketahui, sistem leksikogramatika dan semantik teks ini menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam
teks ini mudah dipahami.
Hal
ini dapat dilihat dari sistem kohesinya yang sangat taut. Meskipun terdapat
banyak penggunaan abstraksi dan leksis attitudinal, kelompok nomina dan verba
kompleks, namun struktur teks mudah dimengerti karena hubungan antar klausa
jelas dan tidak terdapat istilah tehnis yang sulit dipahami.
Bahasa
demikian sudah sesuai dengan sasarannya, yaitu penerima surat (internal Polri)
dan publik dengan berbagai tingkat pendidikan.
F. INTERPRETASI MODE TEKS
(Surat Permohonan Maaf)
a)
Channel
Channel
membahas sejauh mana bahasa yang digunakan tersebut encer atau solid atau
termasuk bahasa tulis, lisan, atau lisan tulis.
Merujuk
pada deskripsi leksikogramatikanya, teks ini memenuhi ciri bahasa tulis, yaitu:
pertama, sistem leksis yang inkongruen karena terdapat banyak abstraksi
yang dibentuk melalui nominalisasi di dalam kelompok nomina panjang, beberapa
teknikalitas yang berkaitan dengan ilmu hukum dan kepangkatan di Polri, dan
penggunaan leksis attitudinal hampir di seluruh teks. Kedua, penggunaan gramatikalnya merujuk pada situasi komunikasi
satu arah karena tidak terdapat vokatif dan kata ganti orang kedua. Ketiga, sistem grupnya (klausa dan
kelompok nomina/verba) lebih bersifat kompleks.
Selain
itu, teks ini juga memiliki ciri bahasa lisan, yaitu: pertama, sistem klausanya lebih bersifat kompleks dengan penggunaan
kata sambung eksternal yang secara jelas menunjukkan hubungan logis antara
kejadian satu dengan lainnya. Kedua,
sistem kohesinya menggunakan banyak repetisi.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa teks ini termasuk dalam kategori gaya bahasa
lisan-tulis cenderung tulis. Meskipun sistem kebahasaannya lebih abstrak dan
padat, namun penggunaan nomina sederhana dan istilah umum, juga struktur teks
surat yang menunjukkan hubungan logis, membuat secara keseluruhan teks surat
ini mudah dipahami dengan logika sederhana.
b)
Media
Media
ini membahas tingkat kesesuaian antara media yang digunakan dengan bahasa yang
dipakai untuk melihat efektifitas penggunaan bahasa.
Dengan
gaya bahasa lisan-tulis cenderung tulis, dan media surat permohonan maaf formal
yang bersifat internal namun bebas dibaca oleh publik, maka dapat dikatakan
bahwa gaya bahasa atau registernya sudah sesuai dengan medianya yang
membutuhkan penggunaan bahasa tulis sederhana, umum, dan mudah dipahami agar
pesan pembuat surat dapat dimengerti oleh seluruh pembaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar