Senin, 17 Oktober 2022

Analisis Semiotik Teks Surat Permohonan Maaf dan Surat Pernyataan Ferdy Sambo (6a) : Interpretasi Teks Surat Permohonan Maaf


E.    INTERPRETASI INTERPERSONAL TEKS (Surat Permohonan Maaf)

a)        Afek

Afek adalah penilaian komunikator (pembuat surat/Ferdy Sambo) terhadap partisipan yang dalam hal ini bisa surat permohonan maaf, peristiwa, pernyataan, penerima surat atau pembaca.

Penilaian Ferdy Sambo terhadap surat permohonan maaf ini sangat positif. Hal ini dapat diketahui melalui polaritas yang positif pada keseluruhan teks, dilihat dari bentuk klausa-klausa deklaratif positif, klausa-klausa imperatif positif, dan penggunaan leksis-leksis attitudinal berupa penggunaan kata-kata yang berkonotasi positif/netral untuk mendeskripsikan realitas negatif atau peristiwa buruk yang mendasari dibuatnya surat ini. 

Klausa-klausa deklaratif positif yang mendominasi teks ini, berupa pernyataan-pernyataan positif melalui proses perilaku verbal yang dapat dilihat dari penggunaan kata kerja dengan polaritas positif, seperti: ingin menyampaikan rasa penyesalan dan permohonan maaf, meminta maaf, menyatakan siap untuk menjalankan setiap konsekuensi, siap menerima tanggung jawab, menanggung seluruh akibat hukum, siap menjalani proses hukum. Kalimat-kalimat ini digunakan untuk menyentuh emosi penerima surat/pembaca sehingga memberikan kesan bahwa pembuat surat telah benar-benar menyesal, tulus meminta maaf, dan siap bertanggung jawab.

Sementara klausa-klausa imperatif positif dalam teks ini berupa kalimat perintah permintaan yang menggunakan kata kerja positif dengan modalitas harapan sehingga memberikan kesan yang baik dan sopan kepada penerima surat/pembaca, seperti yang dapat dilihat dari kalimat: Saya mohon permintaan maaf saya dapat diterima, semoga kiranya rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan baik, sehingga segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak.

Penggunaan kata-kata, seperti: yang murni, yang mendalam, siap, dengan baik, memberikan kesan positif berupa penekanan nilai ketulusan dan kesungguhan pembuat surat. Selain itu juga terdapat beberapa kata bermakna positif/netral yang digunakan untuk menggantikan kata-kata yang berkonotasi negatif saat menggambarkan peristiwa pembunuhan dan kejadian buruk yang mengikutinya, seperti:

Kata “dampak” pada “dampak yang muncul secara langsung pada jabatan yang senior dan rekan-rekan jalankan dalam institusi Polri” dan kata “akibatnya” pada “yang secara langsung merasakan akibatnya” digunakan untuk mendeskripsikan perihal “sanksi yang dikenakan pada anggota Polri yang melanggar kode etik”.

Kata “perbuatan” pada “perbuatan yang telah saya lakukan” digunakan untuk mengantikan kata “kejahatan atau pembunuhan berencana”.

Kata “tanggung jawab” pada “siap menerima tanggung jawab” digunakan untuk menggantikan kata “hukuman atau sanksi”.

Kata “terdampak” pada “menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior dan rekan-rekan yang terdampak” digunakan untuk menggantikan kata “terlibat”.

Kemudian terdapat penggunaan kata yang bermakna generalisasi, seperti “semua pihak” pada “segera mendapatkan keputusan yang membawa rasa keadilan bagi semua pihak”dan “kita semua” pada “semoga Tuhan senantiasa melindungi kita semua”, yang jika tidak dicermati, maka pembaca akan mengira bahwa ucapan harapan dan doa tersebut ditujukan pada kita semua/semua pihak yang terlibat, termasuk korban dan keluarganya juga semua orang yang dirugikan oleh peristiwa pembunuhan ini.

Namun merujuk pada deskripsi kohesi teks, kata ganti “semua pihak” dan “kita semua” sebenarnya merujuk pada “pembuat dan penerima surat”. Jadi, keadilan yang dimaksud di sini adalah keadilan bagi Ferdy Sambo dan senior juga rekan-rekan Perwira dan Bintara yang terlibat. Bahkan Bharada E, pelaku penembakan yang termasuk dalam golongan pangkat Tamtama, tidak termasuk. Dalam perihal suratnya, pembuat surat hanya menyebut senior dan rekan Perwira Tinggi, Perwira Menengah, Perwira Pertama dan rekan Bintara Polri.

Jika dilihat dari sistem dan struktur teks secara keseluruhan, dapat diketahui bahwa pembuat surat ingin memberikan makna positif dan nilai yang baik pada surat permohonan maaf ini. Meskipun pembuatan surat ini dilatar belakangi oleh peristiwa negatif dan nilai yang tidak baik (kejahatan, kekejaman, dan kebohongan), namun pembuat surat tampaknya ingin pembaca mengesampingkan sisi negatif peristiwa pembunuhannya dan mengalihkan fokus pembaca pada sikap positif pembuat surat (pelaku) yang tercermin dalam seluruh pernyataannya dalam surat ini.

Jadi dapat disimpulkan bahwa pandangan penulis terhadap surat permohonan maaf ini adalah positif. Karena tidak ditemukan pernyataan negatif berkaitan dengan peristiwa pembunuhan di dalam surat.

Pelaku digambarkan sebagai sosok yang baik. Meskipun telah melakukan “perbuatan” buruk tetapi pelaku menyatakan menyesal, memohon maaf, dan siap bertanggung jawab.

Senior dan rekan-rekan Perwira dan Bintara yang terlibat dalam kasus ini juga digambarkan sebagai orang yang tidak bersalah (baik), hal ini dapat diketahui dari kalimat “dan menanggung seluruh akibat hukum yang dilimpahkan kepada senior dan rekan-rekan yang terdampak”.

Penerima surat/pembaca juga ditempatkan pada posisi yang baik. Meskipun semua orang mengecam tindak pembunuhan keji ini, tapi pembaca dipaksa untuk menjadi orang baik yang bisa dengan terbuka menerima dan memaafkan kesalahan pelaku. Hal ini dapat diketahui dari kalimat “mohon permintaan maaf saya dapat diterima”, “semoga kiranya, rasa penyesalan dan permohonan maaf ini dapat diterima dengan terbuka.”

Meskipun peristiwa pembunuhan berencana ini negatif, namun pembuat surat tidak pernah menyampaikan pandangan, pernyataan, dan penilain negatif. Hal dapat diketahui dari keseluruhan teks surat yang dibangun dengan polaritas positif: klausa deklaratif dan imperatif positif, kata kerja positif, penggunaan kata-kata berkonotasi baik dan tidak ditemukan antominya. Bahkan kata “pembunuhan” maupun kata negatif lainnya tidak ditemukan dalam teks ini.

 

b)       Status

Status yang dimaksud di sini adalah tingkat hubungan antara komunikator dan komunikan terutama dilihat apakah hubungan bersifat hierarki atau sejajar.

Dilihat dari Moodnya, yaitu struktur klausa yang merealisasikan makna interpersonal – teks surat ini dibangun dengan makna proposal dan proposisi yang nyaris seimbang. Dalam hal ini, pembuat surat seolah hanya ingin memberikan barang (surat) dan memberikan informasi (isi surat), juga meminta penerimaan pembaca/penerima surat melalui dominasi klausa deklaratif dan beberapa klausa imperatif.

Namun jika diamati lebih dalam, sebenarnya pembuat surat juga ingin meminta dukungan dan penilaian baik sehingga penerima surat dan pembaca dapat memberikan pemakluman bahwa pelaku adalah manusia biasa yang memiliki sisi baik dan buruk.

Dilihat dari struktur teksnya yang menunjukkan penyampaian pernyataan pembuat surat secara sepihak kepada penerima surat/pembaca. Meskipun terdapat salam penghormatan berupa vokatif “Rekan dan senior yang saya hormati”, namun hal itu hanya berfungsi sebagai bentuk salam pembuka dalam surat formal, bukan sapaan keakraban.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hubungan antara pembuat surat dengan penerima surat/pembaca bersifat hirarkikal atau vertikal.

 

c)        Kontak

Aspek kontak dalam hal ini ialah melihat sisi familiaritas penggunaan bahasa oleh komunikator dan komunikan. Tingkat familiaritas ini menunjukkan sejauh mana bahasa yang digunakan mengenai sasaran secara tepat dan akurat.

Surat permohonan maaf ini adalah surat formal yang bersifat internal. Sesuai dengan keterangan perihal suratnya, maka sudah jelas bahwa yang menjadi komunikannya adalah penerima surat, yaitu senior dan rekan Perwira Tinggi, Perwira Menengah, Perwira Pertama dan Rekan Bintara Polri, baik yang terlibat maupun tidak.

Namun karena surat ini juga tersebar luas di dunia maya (terlepas dari pihak pembuat surat sendiri yang menyebarkan atau bukan) sehingga bisa diakses oleh semua orang, maka pembaca (publik/masyarakat yang membaca surat ini) juga merupakan komunikan surat ini.

Dapat diketahui, sistem leksikogramatika dan semantik teks ini  menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan dalam teks ini mudah dipahami.

Hal ini dapat dilihat dari sistem kohesinya yang sangat taut. Meskipun terdapat banyak penggunaan abstraksi dan leksis attitudinal, kelompok nomina dan verba kompleks, namun struktur teks mudah dimengerti karena hubungan antar klausa jelas dan tidak terdapat istilah tehnis yang sulit dipahami.

Bahasa demikian sudah sesuai dengan sasarannya, yaitu penerima surat (internal Polri) dan publik dengan berbagai tingkat pendidikan.

 

F.    INTERPRETASI MODE TEKS (Surat Permohonan Maaf)

a)        Channel

Channel membahas sejauh mana bahasa yang digunakan tersebut encer atau solid atau termasuk bahasa tulis, lisan, atau lisan tulis.

Merujuk pada deskripsi leksikogramatikanya, teks ini memenuhi ciri bahasa tulis, yaitu: pertama, sistem leksis yang  inkongruen karena terdapat banyak abstraksi yang dibentuk melalui nominalisasi di dalam kelompok nomina panjang, beberapa teknikalitas yang berkaitan dengan ilmu hukum dan kepangkatan di Polri, dan penggunaan leksis attitudinal hampir di seluruh teks. Kedua, penggunaan gramatikalnya merujuk pada situasi komunikasi satu arah karena tidak terdapat vokatif dan kata ganti orang kedua. Ketiga, sistem grupnya (klausa dan kelompok nomina/verba) lebih bersifat kompleks.

Selain itu, teks ini juga memiliki ciri bahasa lisan, yaitu: pertama, sistem klausanya lebih bersifat kompleks dengan penggunaan kata sambung eksternal yang secara jelas menunjukkan hubungan logis antara kejadian satu dengan lainnya. Kedua, sistem kohesinya menggunakan banyak repetisi.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teks ini termasuk dalam kategori gaya bahasa lisan-tulis cenderung tulis. Meskipun sistem kebahasaannya lebih abstrak dan padat, namun penggunaan nomina sederhana dan istilah umum, juga struktur teks surat yang menunjukkan hubungan logis, membuat secara keseluruhan teks surat ini mudah dipahami dengan logika sederhana.

 

b)       Media

Media ini membahas tingkat kesesuaian antara media yang digunakan dengan bahasa yang dipakai untuk melihat efektifitas penggunaan bahasa.

Dengan gaya bahasa lisan-tulis cenderung tulis, dan media surat permohonan maaf formal yang bersifat internal namun bebas dibaca oleh publik, maka dapat dikatakan bahwa gaya bahasa atau registernya sudah sesuai dengan medianya yang membutuhkan penggunaan bahasa tulis sederhana, umum, dan mudah dipahami agar pesan pembuat surat dapat dimengerti oleh seluruh pembaca.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kronologi Lengkap Kasus Pembunuhan Brigadir J Selama 3 Bulan : 11 Juli - 5 Oktober 2022

  11 Juli 2022 POLISI TEMBAK POLISI Brigadir J diberitakan tewas setelah insiden baku tembak di Rumah Dinas Irjen Ferdy Sambo (FS), Komp...